Proses penggerebekan dua tersangka teroris di Kampung Sukaluyu, Kel Pasirbiru, Kec Cibiru, Kota Bandung berakhir yang memakan waktu hampir 12 jam yang berakhir pada sekitar pukul 22.00 WIB masih menyisakan perbincangan hangat di kalangan tetangga dan warga pada Minggu, (8/8).
Terlebih bekas-bekas penggerebekan begitu leluasa untuk disaksikan. Berdasarkan pemantauan terhadap rumah itu, bekas disposal, peledakan di tempat bahan peledak di kamar tidur itu terlihat rusak.
Sebelumnya, petugas memang meledakan salah satu bom yang sudah jadi itu di ruangan tersebut sehingga cukup mengagetkan warga yang intens menyaksikan proses penggerebekan itu sejak Sabtu siang.
Jendela sudah tanpa kaca karena pecah berhamburan, retakan juga dominan di bidang tembok berukuran sekitar 4x3,5 m yang berada di bagian depan itu berdampingan dengan ruang tamu. Sepertinya, disenggol dari dalam kemungkinan tembok itu bakal ambruk.
Isi kamar juga berantakan karena menyisakan lubang ledakan, dan plafon ruangan yang ambrol. "Ngeri," jelas warga yang melihat langsung dari jendela kendati rumah itu di-police line.
Sebelum peledakan yang dilakukan pada Sabtu malam pukul 21.30 Wib itu, empat warga setempat dijadikan saksi terhadap barang temuan di rumah kontrakan tersangka oleh petugas Densus 88 Anti-teror Mabes Polri di antaranya berupa bahan peledak.
Mereka adalah Ketua RW 12 Ayi Sofyan, Ketua RT 02 Adang Kusmawan, tetangga tersangka di kontrakan sama Bambang Trisno Prabowo (39), dan kakak iparnya, Ahromadi (47). Kapolda Jabar Irjen Pol Sutarman juga ikut dalam kesaksian itu.
Menurut Adang kemarin, barang-barang bukti itu di antaranya senapan angin, pedang, dua bendera hitam dan hijau dengan hiasan arab gundul putih dan hitam, kitab-kitab, dua kardus korek api, dan serbuk putih. "Kesempatannya hanya lima menit tanpa diberi penjelasan, karena diburu waktu menjelang peledakan," tandasnya.
Bambang menambahkan selain serbuk putih yang diperkirakan seberat 2 Kg, terdapat pula serbuk putih lainnya tapi dengan warna yang lebih mengkilap yang ditampung dalam kardus.
Tersangka juga memiliki kendaraan Mitsubishi Galant dengan model produksi 1980-an awal. Interiornya tampak berantakan karena penggeladahan. Sedan biru tua bernopol B 1600 KE itu yang dibawa keduanya sebulan setelah mengontrak rumah di Jalan Terusan Manisi 49D itu tampak tak terawat.
Kehadiran kendaraan buatan Jepang itu menimbulkan spekulasi akan dijadikan bom mobil. Sutarman sebelumnya menegaskan bom yang dirakit dua tersangka itu memiliki daya ledak tinggi, high explosive.
Tak hanya itu, dua sepeda motor juga menjadi tunggangan sehari-hari keduanya yakni terutama Suzuki Smash Nopol D 6191 XF, sementara Honda Revo ber-nopol asal Subang T 6142 UJ lebih sering disimpang di dalam rumah.
Usai Setelah itu, sejumlah anggota Densus 88 Anti-teror Mabes Polri tampak mengangkut dua buah peti plastik ukuran besar dari rumah kontrakan dua tersangka yang diduga anggota jaringan teroris, Fahri alias Hilmi (32) dan Hamzah (40).
Usainya penggerebekan itu membuat lega tetangga kedua tersangka di blok kontrakan yang kebanyakan dihuni kakak-beradik milik Tri Susilowati itu. Mereka bisa kembali menghuni rumahnya kembali setelah disterilkan.
Salah satunya, Euis Komariah (29), ibu dua anak yang tepat berdampingan dengan kontrakan tersangka. Atap dapur rumahnya bahkan jebol karena diduga diinjak Hamzah saat berupaya kabur. Saat itu, dia mengira suara gaduh itu karena gempa sampai kemudian anggota Densus 88 memintanya keluar.
Meski sudah tinggal lagi, Euis tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya karena takut masih ada bahan peledak di rumah itu. "Was-was saja, apalagi untuk tidur. Saya tidak menyangka karena orangnya baik," tandasnya.
Lokasi juga masih dikunjungi warga yang penasaran dengan penggerebekan itu. Hanya saja, kondisi itu hanya berlangsung sampai tengah hari. Polisi juga tak melakukan penjagaan kendati masih melakukan kontrol.
Sebelumnya, Sutarman menyebutkan sebanyak dua tersangka dibekuk di kawasan padat penduduk itu. Tak hanya itu, pihaknya juga menangkap tiga tersangka lainnya dari wilayah yang berbeda masing-masing di Cileunyi, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, dan Subang.

